Rabu, 24 Agustus 2011

Pelajaran Dari Ramadhan
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan puja kehadirat Allah swt karena pada pagi hari ini
kita masih diberikan karunia untuk melakukan shalat ied, setelah sebelumnya kita diberi
kesempatan untuk menunaikan ibadah puasa. Mudah-mudahan kita dapat mensyukuri karunia ini
dengan sungguh-sungguh karena seringkali kita lupa akan karunia Allah ini. Karunia kesehatan dan
kebahagiaan.
Dapat kita bayangkan kondisi saudara-saudara kita lainnya yang tidak seberuntung kita semua pada
saat ini, dimana ada saudara kita yang sakit sehingga tidak dapat menunaikan ibadah puasa dan
shala ied. Betapa irinya mereka terhadap kita. Ada pula kaum Muslimin yang harus merayakan
akhir Ramadhan ini di medan pertempuran, jauh dari sanak saudara. Ada pula kaum Muslimin yang
harus merayakan lebaran ini dari tempat pengungsian.
Sungguh beruntung kita semua karena Allah memberikan kemudahan dan kebahagiaan bagi kita
semua. Untuk itulah mari sekali lagi kita syukuri karunia Allah ini. Marilah kita kumandangkan
takbir.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar,
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar,
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar,
laa ilaha illAllahu akabar.
Allahu akbar wa Lillah ilhamd
Hadirin yang dimuliakan Allah. Ramadhan baru saja berlalu. Pelajaran apa yang dapat kita peroleh?
Mari kita umpamakan Ramadhan ini sebagai sebuah sekolahan. Kita sebut sekolahan ini dengan
nama “sekolah Ramadhan”.
Ramadhan sebagai sebuah sekolah khusus
Sebelum menilik kepada pelajaran yang kita peroleh, mari kita lihat dahulu keistimewaan sekolahan
“Ramadhan ini”. Kita akan tempat “sekolah Ramadhan” ini di Indonesia, dimana mayoritas
penduduknya beragama Islam. Sekolah Ramadhan ini berbeda dan memiliki kekhususan dalam
banyak hal.
Hal yang pertama, setiap orang Islam wajib masuk sekolah ini. Tapi sekolah Ramadhan ini tidak
dipungut biaya.
Hal yang kedua, semua orang tahu aturan sekolah. Semua orang, bahkan anak kecil pun, tahu
lonceng masuk sekolah berbunyi pada saat kita masuk ke waktu Subuh. Dan semua orang tahu
bahwa waktu sekolah usai pada malam hari. Di dalam masa “sekolah” ini semua orang tahu
peraturan “sekolahan”, seperti larangan makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa.
Karena semua orang tahu, maka cobaan pun lebih mudah dihindari. Tidak ada orang yang menawari
makan atau minum di siang hari. Bahkan waktu kerja pun seringkali dipersingkat. Kesempatan
untuk beribadah diperbesar. Pokoknya, berbagai hal dipermudah.
Bayangkan jika anda harus menjalankan puasa di negeri orang yang orang Islamnya minoritas,
sehingga mereka tidak tahu apa itu puasa. Tidak ada perilaku khusus. Kerja tetap panjang waktunya.
Godaan makan dan minum lebih banyak.
Apalagi jika anda tinggal di negeri yang memiliki empat musim; winter (musim dingin), spring
(musim semi), summer (musim panas), dan fall (musim gugur). Puasa bisa saja jatuh di musim
panas (summer) yang siang harinya lebih panjang daripada malam hari. Puasa anda bisa dimulai
dari pukul 2 pagi sampai pukul 9 malam. Mungkin kita hanya sempat berbuka dan langsung dilanjut
dengan sahur.
Demikian nikmatnya sekolah Ramadhan di negara kita ini.
Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar walillah ilhamd.
Ramadhan itu juga memiliki keistimewaan sebagaimana diutarakan dalam hadits ini
“Jika tiba Ramadhan, maka pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup
serta syetan-syetan dibelenggu.” (Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim)
Jadi di sekolah Ramadhan itu gangguan dari syetan ditiadakan. Jadi kalau kita masih berkelakuan
dan berpikiran jahat, maka itu bukan perbuatan syetan melainkan dari diri kita sendiri. Lagi-lagi ini
sebuah kemudahan.
Hal yang ketiga, berbeda dengan sekolahan dimana kita dinilai atau diuji oleh seorang guru, maka
di sekolahan Ramadhan ini kita menilai diri sendiri. Tidak ada ebtanas. Ujiannya adalah antara kita
dan Allah swt.
Ketika kita melakukan puasa, tidak ada orang lain yang tahu apakah kita benar-benar melakukannya
dengan baik kecuali diri sendiri. Tidak ada orang yang tahu kalau kita makan sambil sembunyisembunyi
kemudian pura-pura masih berpuasa. Tentu saja Allah tahu. Jadi yang menilai adalah diri
kita sendiri dan Allah karena puasa ini milik Allah. Disebutkan dalam sebuah hadits:
“Setiap amal anak Adam bagi dirinya. Satu kebaikan diberi balasan dengan sepuluh
kebaikan yang serupa hingga tujuh ratus kali. Allah berfirman, 'Kecuali puasa. Puasa
itu bagi-Ku dan Aku membalasnya. Dia meninggalkan makanan karena Aku,
meninggalkan minuman karena Aku dan meninggalkan istrinya karena Aku'.”
(Diriwayatkan Al-Bukhary, Muslim, Malik, Abu Daud, At-Tirmidzy dan An-Nasa'y)
Puasa ini tidak untuk apa-apa atau siapa-siapa, kecuali hanya untuk Allah.
Pelajaran yang dapat dipetik
Ada banyak pelajaran yang kita peroleh dari sekolah Ramadhan ini. Berikut ini adalah beberapa
contoh pelajaran yang kita terima.
Lapar dan dahaga
Pelajaran yang paling minimal yang dapat dipetik dari Ramadhan adalah lapar dan dahaga. Ini
pelajaran yang paling rendah.
“Berapa banyak orang yang berpuasa, namun yang diperolehnya dari puasanya itu
hanyalah lapar dan dahaga saja.” (HR Khuzaimah dan Thabrani)
Dari sini kita belajar bahwa lapar dan dahaga itu tidak enak. Terbayang oleh kita saudara-saudara
kita yang ditimpa musibah sehingga mereka tidak dapat makan dan minum senikmat kita. Mohon
kita bedakan mereka ini dengan orang-orang malas yang tidak mau bekerja. Masih banyak saudara
kita yang meski telah berusaha, akan tetapi masih kesulitan mendapatkan makanan.
Seringkali kita menggunakan alasan lapar dan dahaga di bulan Ramadhan ini untuk tidak dapat
bekerja dengan baik. Lemas pak. Pusing pak. Bayangkan apabila anda, anak anda, kerabat anda,
anak buah anda lapar. Apakah mereka dapat bekerja, bersekolah, atau melakukan kegiatan dengan
baik?Untuk itu marilah kita berusaha dan bekerja agar kita tidak lapar, agar keluarga kita tidak lapar. Dan
bantulah kerabat dan tetangga agar mereka juga tidak lapar.
Kemampuan mengendalikan diri sendiri
Kita sebenarnya memiliki kemampuan pengendalian diri yang luar biasa. Ketika kita meniatkan
untuk melakukan sesuatu, maka niat tersebut dapat terlaksanan. Bayangkan, kita melakukan puasa
selama sebulan hanya karena niat! Kita tidak makan, minum, merokok, dan melakukan hal-hal yang
membatalkan puasa hanya karena sebuah niat! Kita tidak mencela orang, menjelek-jelekkan orang,
menggosip, hanya karena sebuah niat! Ketika darah mendidih marah, maka kita menahan diri
bersabar dan mengatakan: 'maaf saya sedang berpuasa.' Ternyata kita mampu menahan nafsu
amarah hanya karena sebuah niat! Nawaitu! Luar biasa.
Bagi seorang dewasa dia tahu bahwa dia tidak mendapatkan hadiah (paling tidak, tidak secara
langsung) atau mendapatkan bonus karena puasanya. Tapi toh puasa itu dilakukan juga. Kalau kata
sebuah iklan, ini bukan saja luar biasa, tapi “rrruaaarrr... biasa”. Ini kendali diri yang luar biasa
yang kadang-kadang kita tidak sadari.
Bagi anak-anak, mungkin ikut puasa karena disuruh oleh orang tuanya. Meskipun demikian, ini
masih luar biasa. Mampu mengendalikan diri sendiri di usia anak-anak. Juga luar biasa. Anak-anak
juga memulai kebiasaan shalat, tarawih, dan melakukan kegiatan keagamaan lainnya.
Kebaikan berangkat dari kebiasaan. Namun, keburukan juga berangkat dari kebiasaan. Jadi
kebiasaan yang baik harus dimulai dari sejak kecil.
Kita harus rayakan kemenangan kita ini!
Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar.
Zakat
Di akhir bulan Ramadhan ini kita membayar zakat. Zakat ini juga merupakan sebuah ujian
kepatuhan kita. Apakah kita patuh kepada Allah ataukah kita lebih mementingkan uang? Takut
miskin? Berapalah uang yang kita bayarkan untuk zakat?
Untung (atau rugi?) bahwa khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak berada di tengah-tengah kita.
Kalau ada, maka mungkin kita berhadapan dengan pedang Abu Bakar. Mengapa kita perlu ditakuttakuti
dengan pedang Abu Bakar baru mau membayar zakat? Coba simak ayat berikut
“Dan, orang-orang yang dalam hartanya terdapat bagian tertentu, bagi orang (miskin)
yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).”
(Al-Ma'arij: 24-25)
Jika anda tidak mau membayar zakat, maka Allah akan mengambilnya dari anda. Misalnya melalui
musibah, kecopetan, sakit, kebutuhan ini itu yang tidak anda rencanakan. Yang bukan hak anda
pasti akan memisahkan diri. Apakah kita mau bermain-main kucing-kucingan dengan Allah?
Berani? Bayarlah zakat sehingga kita bisa tenang.
Bagi para Muslimin yang belum mampu membayar zakat, mengapa belum? Jadikan ini sebagai
target tahun depan! Tahun depan, kami harus mampu bayar zakat!
Bagaimana jika gagal?
Meski sekolahan Ramadhan ini mendapat perlindungan khusus, tapi mungkin masih juga gagal.
Banyak penyebab kegagalan ini. Jika kita gagal karena sakit atau halangan lain, itu bisa dimaklumi.
Nanti kita bayar.Namun jika kita gagal melaksanakan tugas yang diwajibkan dalam bulan Ramadhan ini tanpa alasan
yang kuat, maka kita harus berhati-hati sebab dengan segala kemudahan yang telah diberikan oleh
Allah, kita masih gagal juga. Bayangkan syetan dibelenggu saja kita masih kalah. Apalagi jika
syetan-syetan ini dilepas! Ajakan-ajakan dan godaan-godaan untuk melakukan maksiat akan lebih
dahsyat lagi. Tentunya lebih sulit lagi melaksanakan perintah-perintah Allah.
Kegagalan ini harus menjadi sebuah peringatan keras.
Pasca Ramadhan, Selepas Ramadhan
Hadirin yang dimuliakan oleh Allah swt. Ramadhan telah berlalu. Entah dia akan menjadi saksi
yang meringankan kita atau malahan menjadi saksi yang memberatkan.
“Puasa dan Al-Qur'an akan memberi syafaat bagi hamba pada hari kiamat. Puasa
berkata, 'Ya Rabbi, aku mencegahnya makanan dan syahwat, maka berilah aku syafaat
karenanya.' Al-Qur'an berkata, 'Aku mencegahnya tidur pada malam hari, maka
berilah aku syafaat karenanya'. Beliau bersabda, 'Maka keduanya diberi syafaat',”
(Diriwayatkan Ahmad)
Semoga Al-Qur'an dan puasa memintakan syafaat bagi kita pada hari kiamat kelak. Amin.
Waktu melatih diri telah selesai. Masuklah kita kepada praktek sehari-hari. Mampukah kita
mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi kita yang telah kita raih di Ramadhan? Apakah kita
kembali lagi menjadi pecundang (loosers), orang yang kalah?
Jika kita kalah, bagaimana mengharapkan orang lain untuk menang?
Sedih rasanya melihat ketidak mampuan kita untuk mengenda diri. Kita lihat wakil-wakil rakyat
yang berperilaku seperti anak-anak. Dimana hilangnya kesabaran kita? Kemana larinya kemampuan
kita untuk melakukan puasa dan shalat lail? Ternyata kita hanya menjadi seorang Ramadhani saja,
yaitu orang yang mengingat Allah kala Ramadhan saja. Dalam sebuah ceramahnya, Syaikh Al-
Qardhawy mengatakan bahwa barangsiapa yang menyembah bulan Ramadhan, sesungguhnya bulan
Ramadhan itu telah mati dan berlalu. Sementara Allah tidak pernah mati dan senantiasa hidup. Di
antara orang salaf ada yang berkata:
“Seburuk-buruk orang ialah yang tidak mengenal Allah kecuali pada bulan Ramadhan.
Maka jadikanlah diri anda seorang Rabbani, dan jangan menjadi Ramadhani.”
Mudah-mudahan kita termasuk orang yang lebih baik dari itu. Mudah-mudahan Ramadhan ini
membekas di hati kita dan kebiasaan-kebiasaan baik yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan ini
menjadi tetap. Jika tidak 100% melekat, mungkin sekian persen saja. Mudah-mudahan kita masih
diberi kesempatan untuk melakukan sekolah Ramadhan lagi di tahun depan. Dan mudah-mudahan
kita dapat lebih baik lagi.
Hadirin sekalian.
Hari ini kita masuk ke bulan Syawal dan merayakan Idul Fitri. Hari ini kita kembali kepada fitrah
yang suci, kembali kepada lembaran yang bersih. Semuanya ini dalam rangka meningkatkan taqwa
kita. Membersihakan hati kita ini semata-mata hanyalah ibadah kepada Allah swt. Dalam sebuah
kata-kata hikmah dikatakan:
Bukanlah yang disebut hari raya itu hanya untuk orang yang berpakaian baru saja, atau
alat parabot rumah tangga yang baru saja. Tapi yang dinamakan hari raya itu adalah
bagi orang yang bertambah taatnya kepada Allah swt.
Selain melestarikan Hablum Minallah, Idul Firti ini juga berfungsi sebagai sarana Hablum
Minannas, sebagaimana telah diajarkan oleh Rasulullah saw. Maka hendaklah kita saling maafmemaafkan
secara lahir dan batin, atas segala perbuatan kita yang telah lalu.
Sebagai seorang manusia, kita tidak bisa lepas dari sifat salah dan lupa. Kita adakan Silaturrahmi
kepada sanak famili, kita ajak putra-putri kita kepada famili agar saling mengenal sehingga kita
dapat memberi nasihat menuju kebenaran. Di samping itu, kita juga bersilaturrahmi kepada orangorang
Muslim dimana saja berada. Tersebutlah dalam hadist Rasulullah saw:
“Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ialah pahalanya orang yang berbuat
baik dan menyambung kefamilian, yakni silaturrahmi. Dan yang paling cepat
mendatangkan kejahatan, ialah sisksaan orang yang berbuat jahat dan memutuskan
hubungan (kekeluargaan)”. (HR. Ibu Majah)
Kami pribadi mohon maaf lahir dan batin, andaikata kami terdapat kesalahan dan kehilafan dalam
tingkah laku maupun ucapan. Sudilah hadirin memaafkan dengan setulus hati. Dan semoga kita
selalu mendapat taufiq dan hidayah dari Allah dan berbahagia dunia sampai di akhirat.
Akhirnya, marilah kita menundukkan hati kita ke hadirat Allah SWT, memohon ridha dan
perkenanNya.
Ya Allah, ya Tuhan kami. Engkau maha mengetahui, ya Allah terhadap kelemahan-kelemahan
kami, terhadap kekurangan-kekurangan kami.
Engkaulah tempat kami menyembah. Engkaulah tempat kami memohon.
Ya Allah, ya Tuhan kami, kami mohon Engkau ampuni, ya Rabbi, bahwa pada waktu Engkau
memberi karuniaMu, kami mungkin kurang dapat mensyukuri nikmat, namun pada waktu Engkau
memberi cobaan, kami masih pula meragukan kasih sayangMu.
Ya Allah, ya Tuhan kami, berikanlah kami kekuatan serta kemampuan untuk melangkah ke depan,
dimana kami akan tersesat tanpa petunjukMu, kami akan merugi tanpa ridha dan tuntunanMu.
Ya Allah, ya Tuhan kami, curahilah kami dengan rahmat dan nikmatMu, sinarilah hati kami dengan
cahayaMu. Berikanlah kami bimbingan untuk dapat berjalan dijalanMu. Tunjukkanlah kami jalan
yang lurus, yaitu jalan yang Engkau ridhai. Berilah kami kemampuan untuk mengikuti jalan yang
lurus itu ya Allah.
Ya Allah, jadikanlah kami orang-oran yang Engkau karuniai dengan keimanan dan ketaqwaan yang
kokoh kepadaMu, sehingga kami mampu melawan segala tantangan dan hambatan.
(di kutip dari kumpulan khutbah)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar